BEM FKM UNHAS
PERIODE 2024-2025

Hari Peduli Sampah Nasional

Hari Peduli Sampah Nasional

“Kebersihan dan kerapian bukanlah masalah naluri; itu adalah masalah pendidikan, dan seperti hal-hal besar lainnya, kamu harus menanamkan rasa padanya.”

– Benjamin Disraeli

 

APA ITU SAMPAH?

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah berasal dari rumah tangga, pertanian, perkantoran, perusahaan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya. 

 

KAPAN DAN MENGAPA HARI PEDULI SAMPAH NASIONAL PERLU DIPERINGATI?

Sedikit kilas balik dan untuk kita ketahui bersama, 12 tahun lalu atau tepatnya tanggal 21 Februari 2005 terjadi tragedi longsornya timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Leuwi Gajah, Cimahi, Bandung, Jawa Barat yang diduga karena curah hujan yang sangat tinggi, serta ledakan gas metana (CH4) yang terperangkap dalam timbunan sampah. Longsornya 2,7 juta meter kubik sampah ini, kemudian menimpa permukiman yang berada di bawah TPA tersebut. Dan dari kejadian tersebut, tercatat lebih dari 147 jiwa terkubur hidup-hidup dan dua kampung adat hilang dari peta karena tertimbun sampah.

 

PERMASALAHAN SAMPAH DI INDONESIA

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2019, merilis bahwa saat ini Indonesia menghasilkan sedikitnya 64 juta ton timbunan sampah setiap tahunnya. sekitar 60 persen sampah diangkut dan ditimbun ke TPA, 10 persen sampah didaur ulang, sedangkan 30 persen lainnya tidak dikelola dan mencemari lingkungan.

 

Kemudian, pengolahan sampah di Indonesia sendiri masih jauh dari kata baik dan berkelanjutan. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional pada tahun 2017, sebanyak 66.39% sampah nasional ditimbun di TPA masing-masing daerah. Sementara itu jumlah sampah yang tidak terkelola mencapai 19.62%. Barulah sisanya diolah menjadi kompos, bahan bakar dan didaur ulang (Ditjenppi.menlhk.go.id, 2015). Oleh karenanya, terjadi penumpukan sampah terutama sampah plastik hingga Indonesia menorehkan sebuah pencapaian yang sayangnya tidak membanggakan. Menurut Jambeck Research GroupIndonesia menyumbang sekitar 1.3 juta ton sampah plastik per tahunnya dan menjadinnya sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut nomor 2 (dua) di dunia setelah tiongkok. Kemudian sampah plastik yang tidak terkelola di Indonesia mencapai 3.22 juta ton per tahunnya dan diprediksi pada tahun 2025 mencapai 7,4 juta ton per tahun. Padahal pemerintah sendiri sudah mematok target Indonesia bebas sampah pada 2025 (Fajar, J., 2018).

 

Tiongkok yang merupakan penyerap impor sampah plastik terbesar di dunia baru-baru ini mengeluarkan sikap agresif berupa memberlakukan kebijakan pengawasan impor sampah plastik yang ketat (Lingkungan Hidup, 2019). Tentunya hal ini berimbas pada negara-negara ASEAN seperti Indonesia dan Malaysia karena menjadi sasaran utama untuk mengirim sampah-sampah plastik tersebut. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja jika tidak mau negeri tercinta kita ini dijadikan “tempat sampah” oleh negara-negara lainnya. Sementara itu, menurut kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kasus ini yang sudah terjadi bertahun-tahun disebabkan karena adanya celah hukum pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31/M-DAG/PER/5/2016 tentang impor Limbah Nonbahan Berbahaya dan Beracun (B3). Pihak KLHK pun sebenarnya sudah mengusulkan revisi terkait dua pertauran tersebut, sayangnya prosesnya berjalan dengan lambat. Akan tetapi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan mengekspor balik 16 kontainer berisi sampah plastik impor yang diduga diselundupkan ke Surabaya dan Batam. Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menegaskan kiriman sampah plastik itu ilegal dan akan menjatuhkan sanksi pada pihak yang terlibat (Nirmala, R., 2019)

 

DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH SAMPAH

Penimbunan sampah plastik dapat mencemari lingkungan sekitar dan berisiko menimbulkan penyakit berbasis lingkungan karena sampah merupakan sumber penyakit baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung sampah merupakan tempat berkembangnya berbagai parasit, bakteri dan patogen. Sedangkan secara tak langsung sampah merupakan sarang berbagai vektor (pembawa penyakit) seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk yang dapat menyebarkan berbagai penyakit menular Sampah padat yang ditimbun juga sering terkena air hujan dan berpotensi menjadi sumber timbulnya pencemaran air, baik air permukaan maupun air tanah. Akibatnya, berbagai sumber air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari (sumur) di daerah pemukiman terkontaminasi dan mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat kesehatan manusia / penduduk (SL Tobing, 2005).

 

Pembakaran sampah juga dapat berisiko menyebabkan berbagai penyakit pernapasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), gangguan pada sistem saraf, kanker dan juga komplikasi kesehatan lainnya. Pembakaran sampah plastik di area terbuka masih menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Padahal, hal ini merupakan salah satu sumber utama polusi udara. Sampah plastik mengandung zat hidrogen dan karbon dan ketika dibakar, dapat melepaskan gas beracun seperti dioksin, furan, merkuri, dan bifenil poliklorinasi ke atmosfer (Verma et al., 2016). 

 

Selanjutnya, pembakaran Poly Vinyl Chloride (PVC) membebaskan halogen berbahaya dan mencemari udara, yang dampaknya adalah perubahan iklim. Zat beracun yang dilepaskan tersebut menimbulkan ancaman terhadap vegetasi, kesehatan manusia dan hewan serta lingkungan secara keseluruhan. Polystyrene berbahaya bagi Sistem Saraf Pusat sedangkan senyawa brominasi berbahaya bertindak sebagai karsinogen dan mutagen. Dioksin dapat menetap di tanaman dan di saluran air, kemudian mereka akhirnya masuk ke dalam makanan kita dan dapat menyebabkan kanker dan kerusakan neurologis, mengganggu tiroid reproduksi dan sistem pernapasan (Verma et al., 2016)

 

PERAN MAHASISWA DALAM PEMBERANTASAN SAMPAH

Mahasiswa diharapkan untuk menjadi agent of change, yaitu pihak yang mendorong terjadinya transformasi dunia ini ke arah yang lebih baik melalui efektifitas, perbaikan dan pengembangan. Untuk menjaga kelestarian lingkungan disekitar kita maka mahasiswa terlibat dalam pengelolaan sampah mulai dari rumah tangga dan lingkungan kampus.

 

TANGGUNG JAWAB KITA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

Perluasan Tanggung jawab Produsen (Extended Producer Responsibility –EPR) adalah suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya. Kebijakan ini memberikan insentif kepada mereka untuk mendesain ulang produk mereka agar memungkinkan untuk didaur-ulang, tanpa material-material yang berbahaya dan beracun.

 

“Satu sampah yang kau buang ke tempatnya, akan menyelamatkan seluruh alam semesta.”

 

Referensi

I Gusti Agung Ayu Yuliartika Dewi. Peran Generasi Milenial Dalam Pengelolaan Sampah Plastik Di Desa Penatih Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar.ejournal.warmadewa.ac.id

 

Khulafa biotech . Dampak Sampah Pada Kehidupan Manusia. https://www.khulafabiotech.com/dampak-sampah-pada-kehidupan-manusia/

 

Paserkab. https://dlh.paserkab.go.id/detailpost/sejarah-hari-peduli-sampah-nasional

 

S.Sayuti,ST.Permasalahan sampah dan solusinya.

https://dlhk.bantenprov.go.id/upload/article.pdf/PERMASALAHAN%20SAMPAH%20DAN%20%20SOLUSINYA.pdf

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *