BEM FKM UNHAS
PERIODE 2024-2025

WTA

Masihkah Kita Bungkam dengan WTA?

Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa berdasarkan riset Atlas Tobbaco. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) 2018, prevalensi merokok pada remaja usia 10 sampai 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,9% dari tahun 2013 (7,20%) ke tahun 2018 (9,10%).

 

World Tobacco Asia adalah pameran rokok dan prasarana otomatisasi industrinya yang diikuti pelaku-pelaku industri rokok dari seluruh dunia. Dalam perhelatan tersebut, pelaku-pelaku industri rokok dari berbagai belahan dunia memamerkan produk mereka masing-masing, mengundang investor untuk menanamkan investasinya.

 

Indonesia yang akan telah menjadi tuan rumah pada tahun 2010, 2012, 2016 dan terakhir pada tahun 2019 di Surabaya. Seharusnya tuan rumah pelaksanaan WTA ini memiliki pergantian setiap tahunnya, namun nyatanya Indonesia selalu menjadi tuan rumah WTA. dimana di saat negara-negara lain di Asia menolak justru Indonesia menerima dengan suka rela. 

 

World Tobacco Asia (WTA) dalam situs resminya mencatat, Indonesia sebagai negara yang ramah rokok. Hal ini dinilai sebagai bentuk pelecehan, seakan-akan Indonesia adalah asbak dunia. Apalagi dalam situs itu, WTA mencatat Indonesia sebagai negara paling berkembang di dunia untuk industri rokok. Indonesia berada di peringkat 5 pasar rokok dunia dengan 30% penduduk adalah perokok.

 

Perlu diketahui, bahwa acara WTA ini bertentangan dengan PP. No. 109 Tahun 2012 Pasal 2 ayat 2 yang terkait dengan penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau dan melindungi penduduk usia produktif, anak, remaja dan perempuan hamil dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan dan promosi untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau.

 

Dikabarkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah WTA kembali pada tahun 2021 mendatang, tepatnya kembali dilaksanakan pada 7-8 Juli di kota Surabaya. Padahal seperti yang kita tahu pada tahun 2018 Kota Surabaya mendapatkan penghargaan sebagai Kota Layak Anak yang secara langsung diberikan kepada Wali Kota Surabaya oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

 

Adapun dampak dari pelaksanaan dari WTA ini :

Adanya WTA, kedepannya berdampak bagi derajat kesehatan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa Indonesia semakin memburuk, kualitas bangsa Indonesia semakin terancam. Semakin berkembangnya industri tembakau, maka semakin meningkatnya juga jumlah perokok. WTA bertentangan dengan PP No. 109 Tahun 2012 pasal 2(2) dan kecanggihan dalam alat produksi rokok bisa menyingkirkan buruh pabrik, berdampak pada jumlah perokok yang semakin banyak dan tidak bisa terhitung lagi.

 

MARI BERSAMA-SAMA MENOLAK PELAKSANAAN WTA DI INDONESIA!

 

Sumber :

Riskesdas 2018

ismkmi.org

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *