BEM FKM UNHAS
PERIODE 2024-2025

IMG_20210326_192017

Press Release: Book Review for Today V - Kami (bukan) Sarjana Kertas

Kami (bukan) Sarjana Kertas bercerita tentang tujuh orang sebagai mahasiswa baru di Universitas Dwi Eka Laksana atau disingkat UDEL. Awalnya, mahasiswa baru di kampus UDEL dibentuk kelompok yang terdiri dari tujuh orang. Kelompok ini memiliki satu dosen pendamping dan harus bertahan hingga lulus. Tujuan dibentuknya kelompok ini adalah supaya mahasiswa dapat saling mengenal dan saling mengingatkan tentang mimpi-mimpi mereka setelah lulus dari kampus UDEL.


Terbentuklah sebuah kelompok yang terdiri dari Ogi, Randi, Arko, Sania, Juwisa, Gala dan Cath. Mereka berasal dari berbagai macam fakultas yang berbeda. Ogi, Randi dan Arko berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Juwisa dan Sania berasal dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan Gala berasal dari Fakultas Teknik. Cath sendiri tidak terlalu lama belajar di kampus UDEL karena memilih melanjutkan studinya di negara Belanda. Kelompok kecil mereka dibimbing oleh Bu Lira, dosen lulusan S3 Rekayasa Genetika Hewan di Amerika Serikat.


Ogi adalah anak paling malas di antara semua orang di kelompoknya. Alasan Ogi mau berkuliah di kampus UDEL adalah karena paksaan Randi Jauhari alias Ranjau. Sahabatnya itu berkali-kali menyuruhnya untuk kuliah untuk masa depan yang lebih baik di masa depan. Akhirnya, Ogi mau menerima ajakan Ranjau. Di hari pertama kuliah, mereka berdua berkenalan dengan Arko, Sania, Juwisa, dan Cath. Di hari itu juga, dosen pendamping mereka, Bu Lira, datang dengan membawa banyak pizza dan dua koper hitam besar-besar. Awalnya, Bu Lira memberikan pizza tersebut kepada seluruh mahasiswa baru di ruangan. Di tengah-tengah lahapnya mahasiswa menikmati pizza, tiba-tiba Bu Lira bertanya dengan pertanyaan yang mengejutkan.


“Siapa yang merasa paling pintar di sini? Silahkan angkat tangan!”


Tidak ada satu pun mahasiswa yang berani untuk angkat tangan. Mereka hanya kebingungan dan berhenti menikmati pizza pemberian Bu Lira.


“Kalau begitu, siapa yang merasa paling bodoh di sini? Silahkan angkat tangan!”


Tanpa pikir panjang, Ogi langsung angkat tangan. Ogi mengakui bahwa dirinya adalah orang yang mungkin paling bodoh di ruangan ini. Selain itu, ia juga sebenarnya tidak terlalu niat untuk kuliah jika tidak dipaksa Ranjau. Apalagi setelah beberapa hari menjalani kuliah yang ternyata terlalu berat bagi Ogi. Ia mengira jurusan komunikasi hanya sekadar ngomong tapi ternyata lebih dari itu. Akhirnya, Bu Lira menyuruh Ogi untuk keluar. Ogi pun keluar dari ruangan tersebut. Di saat Ogi keluar, Bu Lira juga ikut keluar dan menggembok pintu ruangan tersebut. Keanehan terjadi saat seluruh mahasiswa di ruangan tersebut berteriak ketakutan. Ternyata, di dalam dua koper Bu Lira, keluar tikus-tikus besar yang langsung menyerang seluruh mahasiswa yang sedang menikmati pizza. Rupanya kejadian ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Bu Lira sebagai bentuk perkenalan bagi mahasiswa baru di kampus UDEL. Selain itu, Bu Lira masih sempat menikmati kejadian tersebut di balik jendela bersama Ogi sembari mengeluarkan sumpah serapah kepada seluruh mahasiswa yang merasa pintar.


“Coba kalian yang merasa pintar hadapi tikus-tikus itu! Dunia setelah kalian lulus akan lebih menjijikkan daripada tikus-tikus itu.” serapah Bu Lira


Ogi sendiri masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di balik jendela ruangan bersama Bu Lira.


Buku ini dapat merubah kerangka berpikir seseorang dalam memperoleh perspektif baru mengenai mimpi, peluang, bisnis, usaha, perjuangan, keberhasilan, kegagalan, dan sebagainya. Pembaca dibuat berpikir dan menghayati pada tiap makna kata, tiap lika-liku kehidupan, dan konflik yang tersaji dengan baik.


Dengan alur cerita yang ringan penuh lika-liku kejadian lucu dan haru, buku ini ditulis dengan cara penyampaian yang unik dengan disajikan komedi yang segar dan sarat akan makna ditambah lagi dengan dimuatnya kritik praktik pendidikan di Indonesia yang tidak hanya terhadap institusi pendidikan namun semua pihak yang terlibat dalam pendidikan termasuk peserta didik, pendidik, orang tua serta kontruksi sosial yang ada. Hal ini menjadikan buku ini sangat sesuai dengan kehidupan, mengenai kebingungan mahasiswa akan cita-cita saat kuliah hingga setelah bertoga.


Setelah membaca buku ini dapat membangkitkan semangat kawan-kawan yang pernah sirna maupun yang tak kunjung terbit. Entah karena kuliah telah usai tanpa toga, lulus namun tak kunjung dapat kerja, atau yang tak pernah sama sekali mengenyam bangku perkuliahan. Menjadi sarjana bukablah satu-satunya cara untuk mendapatkan kesuksesan, sebab yang tak sekolah tinggipun banyak yang sukses. Gunakan kesempatan, habiskan jumlah gagalmu dan kau akan berhasil. Kita semua berhak memiliki mimpi, menggapai angan dan cita karena Sang Penentu Takdir selalu menghadirkan peluang.

 

Tanggapan Mereka Terkait Buku Kami Bukan Sarjana Kertas:


Buku ini sangat menarik, bahasanya mudah di pahami dan cara pemantik membawakan buku ini sangat luar biasa. Cerita yang ada di dalamnya sangat menginpirasi bahwa sanya pendidikan itu penting dan setiap orang memiliki cerita dan memiliki pengalaman berbeda, setiap orang berhak untuk memilih jalannya sendiri dan setiap orang memiliki jatah berhasil dan jatah gagalnya. –Sulindah


Cerita dalam buku ini sangat menginspirasi. patut dijadikan sebagai bahan untuk refleksi diri dalam kehidupan kita dalam sehari-hari dalam proses perkuliahan. serta dapat menjadi bahan renungan agar terhindar dari melakukan hal yang tidak baik. –Anfa


Buku ini mengandung sindiran baik untuk dosen, mahasiswa, maupun sistem pendidikan pada saat itu. Dalam buku juga di ceritakan mengenai seseorang yang kuliah tidak sesuai dengan bakatnya, mahasiswa IPK tinggi namun setelahnya jadi pengangguran, dan cerita mengenai bagaimna seorang mengejar mimpinya. Yang paling mencolok adalah kisah pertemanan mereka, usaha yang dilakukan para mahasiswa buangan Universitas UDEL ini demi menggapai mimpinya. –ADF


Bahasa dalam buku ini ringan dan mudah dipahami, kisahnya juga seru dan relate dengan kehidupan kampus dengan segala lika-likunya. Buku ini juga mengajarkan arti persahabatan, kegigihan dan kerja keras. –WD

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *